Keunikan utamanya adalah penggunaan spageti Italia yang dipadukan dengan kuah kari ikan parang kental ala Melayu—sebuah hidangan fusi warisan Istana Johor sejak abad ke-19.
Sarapan yang terbuat dari kaldu kacang fava (kacang parang) ala Timur Tengah ini diadaptasi oleh Haji Makpol setelah pulang dari Tanah Suci dan sangat populer dicampur dengan roti bakar serta telur mata kerbau.
Berbeda dengan lontong biasa, kuah Lontong Johor memiliki warna kuning keemasan yang pekat karena menggunakan campuran serundeng kelapa, tauco, dan sambal kacang.
Berkuah lebih gelap dan pekat dengan aroma tajam dari daun kesum, bunga kantan, serta tumisan cabai giling yang diimbangi dengan air asam jawa.
Ladrang/pepes tradisional suku Jawa di Johor yang menggunakan ikan (seperti tenggiri) dilumuri rempah pekat dan dibungkus berbagai ulam (daun kaduk, pucuk ubi) sebelum dikukus.
Hidangan sarapan ikonik ini dimasak menggunakan cawan khusus bercorong sehingga menghasilkan jaring-jaring tipis, sangat cocok disandingkan dengan kuah kari ayam yang kental.