Sup asam-pedas ini memiliki "trinitas bumbu" yang khas, yaitu serai, lengkuas, dan daun jeruk purut. Sebagai salah satu makanan paling mendunia, hidangan ini resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.
Tumis mi beras ini dulunya dipromosikan oleh pemerintah Thailand pada era 1940-an untuk mengatasi krisis ekonomi dan mengurangi konsumsi beras. Cita rasa otentiknya didapat dari asam jawa, bukan dari tambahan saus tomat atau gula berlebih.
Terjemahan literalnya adalah "kari hijau manis", tetapi kata manis di sini merujuk pada warna kuah karinya yang hijau cerah, bukan rasanya. Rasa utamanya adalah kombinasi gurih, pedas, dan aromatik dari daun kemangi Thailand.
Kuah supnya yang gelap dan kaya rempah tradisionalnya menggunakan darah babi atau sapi untuk memberikan tekstur kental dan gurih. Porsinya disajikan dalam mangkuk kecil karena dulunya pedagang harus meracik dan menyajikannya di atas perahu yang bergoyang di kanal-kanal Bangkok.
Salad pepaya muda ini ditumbuk menggunakan cobek kayu (mortar) untuk memecah serat pepaya dan mencampurkan bumbu. Hidangan ini menawarkan keseimbangan sempurna antara rasa manis, asam, asin, dan pedas.
Ketan yang dimasak dengan santan kental dan sedikit garam ini memberikan sensasi gurih yang sangat pas dipadukan dengan manisnya buah mangga matang. Hidangan penutup ini sangat populer dinikmati pada musim panas.